Kenikmatan Dari Pegawaiku (Bagian 1)



Narasi Dewasa – Saya kerja di perusahaan kontraktor swasta di wilayah Indramayu yang memiliki seputar 20 pegawai serta tiga orang salah satunya ialah wanita.

Narasi Dewasa – Kesenangan Dari Pegawaiku Biasanya pegawai-pegawai itu tiba dari desa seputar perusahaan ini ada serta rerata pegawai prianya telah kerja di perusahaan ini seputar 15 tahunan semakin, sedang saya diperbantukan dari kantor pusat di Jakarta serta baru seputar satu tahun di kantor cabang ini untuk kepala personalia merangkap kepala keuangan. Sebab pindahan dari kantor pusat, karena itu saya bisa tinggal di dalam rumah yang disewa oleh perusahaan. Istriku tidak turut tinggal di sini, sebab ia kerja di Jakarta, jadi jika tidak saya yang ke Jakarta tiap Jum'at sore serta kembali lagi hari Minggu sore atau istriku yang tiba.

Jalinan antar beberapa pekerja demikian dekat, hingga beberapa dari mereka ada yang telah memandang saya untuk saudara atau anaknya saja. Pada kondisi seperti saat ini, perusahaan dimana saya kerja alami kritis yang cukup serius serta layanan pekerjaan yang kami terima dari perusahaan kilang minyak serta perusahaan yang lain  makin sedikit. Ini menyebabkan pimpinanku memerintah untuk kurangi sebagian orang pegawainya serta ini harus kulaksanakan dalam tempo satu bulan ini. Narasi Dewasa

Sesudah kupilah-pilah dari 20 orang pegawai itu, lalu saya ambil lima orang pegawai yang sangat tua serta yang dalam 1 atau dua tahun ini akan capai umur 55 tahun, lalu saya memerintah sekretaris kantor yang namanya Sri (samaran) dan dari masyarakat di seputar perusahaan untuk menulis draft beberapa surat yang telah kupersiapkan serta rencanaku dalam dua minggu ini semasing pegawai akan kupanggil satu-satu untuk keberikan keterangan sekaligus juga memberi golden shake hand pesangon yang lumayan besar. Sri salah satu antara 3 pekerja wanita di sini serta usia mereka bertiga seputar 30 tahunan. Sri, menurut rekan-rekan kerjanya ialah seorang pegawai yang cukup sombong, entahlah apakah yang disombongkan atau sebab menganggap yang sangat cantik antara ke 2 wanita yang lain.

Walau sebenarnya jika saya banding dengan pekerja wanita di kantor pusat Jakarta, belumlah ada apa-apanya. Suaminya Sri menurutnya itu telah satu tahun ini kerja di Arab untuk TKI. Pada hari Jum'at sore, pada saat saya besiap siap akan pulang, mendadak ada salah seorang pegawai yang umum kupanggil Pak Tus tiba menghadap ke ruang kantorku.

"Ada apakah Pak Tus", tanyaku.

"Ini…, Pak…, jika Bapak ada waktu, esok saya ingin ajak Bapak untuk lihat kebun buah-buahan di wilayah pegunungan seputar Kuningan serta peninggalan orangtua saya, siapa tahu Bapak tertarik untuk membeli". Sesudah kipikir sesaat serta sekaligus juga untuk membahagiakan hatinya sebab Pak Tus ini salah satu dari pegawai yang akan terserang PHK, selekasnya saja permohonannya kusetujui. Pkv Game

"Oke…, Pak Tus, bisa deh, kebetulan saya tidak punyai acara pada hari Sabtu serta Minggu ini…, kita pulang hari atau nginap Pak…?

"Jika Bapak tidak keberatan…, kita nginap tadi malam di gubuk kami…, Pak.., serta jika Bapak tidak memprotes, saya akan bawa Istri, anak serta cucu saya, Agar cukup ramai sekaligus juga untuk masak.., sebab tempatnya cukup jauh dari warung", jawab Pak Tus dengan muka berseri.

"Yapi…, Pak…, saya tidak punyai kendaraan.., lanjut Pak Tus dengan muka cukup susah".

"Pak…, Tus…, masalah kendaraan jangan begitu di pikirkan, kita gunakan Kijang saya saja.., serta Pak Tus bisa bawa semua keluarganya, asal ingin berdesak-desakan di Kijang serta esok jam 10 pagi akan saya jemput ke rumah Pak Tus", sahutku serta Pak Tus dengan muka berseri kembali lagi lalu berterima kasih serta pamit untuk pulang. "

Esok paginya seputar jam 10 pagi saya menjemput ke rumah Pak Tus yang bisa disebut rumah benar-benar simpel. Di muka tempat tinggalnya saya diterima oleh Pak Tus serta Istrinya. Saya cukup kaget, sebab Isrinya terlihat semakin lebih muda dari yang kuduga. Ia kutaksir berusia seputar 35 tahunan serta walaupun tinggal di kampung tetapi kelihatannya tidak tertinggal zaman. Istri Pak Tus kenakan rok serta pakaian cukup ketat tanpa ada lengan dan ukuran dadanya seputar 36C.

"silahkan masuk…, Pak…", tuturnya hampir serempak,

"Ma'af Pak…, tempat tinggalnya buruk", sambung Pak Tus.

"Ah, Bapak serta Ibu.., bisa, Oh iya…, anak serta cucu nya apa jadi turut?", sahutku sekalian menanyakan sebab saya tidak lihat mereka.

"Oh…, sang Nining (mana dikaburkan) sedang di belakang mempersiapkan beberapa barang bawaannya serta cucu saya tidak ingin pisah dari ibunya", sahut Pak Tus.

Narasi Dewasa Selang beberapa saat dari belakang ada wanita muda yang tidak dapat disebut buruk dengan tinggi seputar 160 Cm dan menggunakan T shirt ketat sedang menggendong anak lelaki serta tangan satunya membawa tas cukup besar, kemungkinan berisi baju.

"Pak..", kata Pak Tus, yang membuatku cukup terkejut sebab saya pernah kagum dengan bodi Nining yang yang aduhai dan berjalan dengan dada yang melawan walaupun ukuran dadanya bisa disebut tidak besar.

"Paak…, ini perkenalkan anak wanita saya…, Nining serta ini cucu saya Dodi". Kusambut juluran tangan Nining dan kujabat tangannya merasa cukup dingin serta kemudian kucubit pipi Dodi.

"Ayo…, Pak…", ajak Pak Tus, "Kita siap serta dapat pergi saat ini".

"Lho…, apa bapaknya Dodi tidak ikut…, Pak?, tanyaku serta kulihat Pak Tus sama-sama berpandangan dengan Istrinya, tetapi yang menyahut justru Nining. "Tidak kok…, Pak…, ia lagi pergi jauh".

"Ayo…, lah jika begitu…, kita dapat pergi saat ini.., Pak", kataku walaupun saya masih ada tanda pertanyaan besar dalam hatiku masalah suami Nining.

Sesampainya tempat tujuan, saya jadi terpesona dengan kebun yang dipunyai Pak Tus yang lumayan luas serta teratur rapi dan semuanya ditanami pohon buah-buahan, serta banyak yang sedang berbuah. Rumah yang bisa disebut tidak besar, terdapat dibagian belakang kebun itu.

"Ayo…, Pak, kita istirahat dahulu di gubuk, kelak kemudian kita dapat keliling kebun lihat beberapa pohon yang ada", kata bu Tus serta diterima dengan sahutan Pak Tus.

"Iyaa…, Pak…, silahkan istirahat ke rumah dahulu, agar Istri saya mempersiapkan minum buat Bapak, sedang saya ingin bertemu yang jaga kebun ini.

Lalu saya serta Bu Tus berjalan bersama-sama ke arah tempat tinggalnya serta selama perjalanan ke arah rumah kupuji jika kebunnya lumayan luas dan tertangani benar-benar baik. Bioskop Online

"Aahh…, Bapak…, jangan begitu memuji…, kebun ini.., kok disebut bagus.., tetapi berikut kekayaan kami salah satu serta peninggalan mertua", kata bu Tus yang tetap murah senyum itu. Saat dekati rumah, Bu Tus lalu mengatakan,

"silahkan Pak…, masuk", serta saya selekasnya sebutkan, "silakan…, sekalian berubah sedikit untuk memberikan jalan pada bu Tus.

Entahlah kenapa, kami berdua berjalan bersama-sama masuk pintu rumah hingga dengan cara tidak menyengaja tangan kiriku sudah menyenggol sisi dada bu Tus yang mencolok serta kurasakan empuk sekali. Sekalian kupandangi muka bu Tus yang terlihat memeras, selekasnya kukatakan.

"Maaf…, bu…, saya tidak menyengaja", Bu Tus tidak selekasnya menjawab keinginan maafku, saya jadi berasa cukup tidak enak serta takut ia geram, hingga kuulangi lagi.

"Betul…, buu…, saya tidak sengaja…".

"Aahh..", Pak Pur.., saya tidak apa apa kok…, hanya…, cukup terkejut saja, lupakan.., Pak…, hanya begitu saja…, kok", kata bu Tus sekalian tersenyum. "Oh iya…, Bapak ingin minum apa", bertanya bu Tus.

"Terserah Ibu saja deh".

"Lhoo…, kok terserah saya..?".

"Air putih bisa kok bu". Sesudah bu Tus ke belakang, saya lalu duduk di ruangan tamu sekalian memerhatikan ruang nya mode rumah kuno tapi tertangani secara baik.

BACA JUGA : Narasi Dewasa – Tukang Jamu masih Rapet

Tidak lama, kulihat bu Tus yang sudah mengubah pakaiannya dengan pakaian terusan seperti pakaian untuk tidur yang longgar berjalan dari belakang sekalian bawa baki berisi satu gelas teh serta sesampainya di meja tamu dimana saya duduk, bu Tus menempatkan gelas minuman bagiku sekalian sedikit membungkuk, hingga secara jelas nampak dua gundukan besar yang menggantung didadanya yang tertutup BH serta sisi dalam tubuhnya, membuat mataku sedikit melotot memerhatikannya. "Narasi Mesum: Nining Hot"

"Iihh…, matanya Pak Puur…, kok…, nakal.., yaa", tuturnya sekalian menyapukan tangannya didepanku dan tersenyum.

Saya jadi cukup malu disebutkan demikian serta untuk tutupi rasa maluku, saya jawab saja sekalian cukup bercanda.

"Habiis…, bu Tus berdirinya begitu…, sich. "Aahh…, bapak ini…, kok sepertinya…, tidak pernah lihat semacam itu saja", sahut bu Tus yang masih tetap berdiri di dekatku serta mencubit tanganku.

"Benar kok…, buu…, saya tidak pernah lihat yang semacam itu, jadi bisa kan buu…, saya melihat lagi..?".

"aahh…, bapak..", kembali lagi mencubitku tapi saat ini di pipiku sekalian terus berjalan ke belakang. Narasi Dewasa

Sesudah minuman kuhabiskan, saya lalu balik keluar ke arah kebun serta bercakap dengan pak Tus yang sedang bersihkan daun-daun yang berantakan. Selang berapakah lama, kulihat bu Tus tiba dari di rumah sekalian bawa gulungan tikar serta sesudah dekat lalu mengadakan tikarnya di kebun sekalian mengatakan pada suaminya.

"Paak…, kita ajak Pak Pur makan siang di sini saja…, yaa", serta pak Tus tidak menjawab pertanyaan istrinya tapi menanyakan kepadaku.

"Nggak…, apa-apa…, kan.., paak.., makan di kebun..? Agar lebih nikmat".

"Tidak apa apa kok.., paak", jawabku.

Selang beberapa saat dari arah rumah tetangganya, kulihat Nining yang telah mengubah pakaiannya dengan pakaian terusan yang longgar seperti ibunya tiba bawa makanan serta sekalian membungkuk menempatkan makanan itu di tikar serta saya yang sedang duduk di tikar itu kembali lagi lihat buah yang menggantung di dada, serta saat ini dadanya Nining. Terlihat sekali jika Nining tidak kenakan BH serta ukurannya tidak besar. Nining tidak sadar jika saya sedang memerhatikan buah dadanya dari sela pakaiannya di saat meletakkan serta membuat makanan di tikar.

Sesudah Nining pergi, saat ini tiba Ibunya sekalian bawa makanan yang lain serta saat ia membungkuk meletakkan makanan, kembali lagi saya disungguhi panorama yang sama serta saat ini cukup lama sebab makanan yang diatur oleh Nining, diatur kembali lagi oleh bu Tus. Tidak kuduga, mendadak bu Tus sekalian masih membuat makanan lalu mengatakan cukup berbisik, kemungkinan takut didengar oleh suaminya yang tetap kerja bersihkan daun-daun tidak jauh dari tempatku duduk.

"Paak…, telah senang menyaksikannyaa..?".

Lalu kudekatkan mukaku sekalian menolong membuat makanan serta kukatakan perlahan,

"Beluum…, buu…, saya ingin menggenggamnya serta mengisapnyaa". Bu Tus langsung mencubitkan tangannya di pahaku sekalian mengatakan perlahan,

"Awas…, yaa…, kelak saya gigit punyai bapak.., baru mengetahui", sekalian terus berjalan.

Saat ini ada lagi Nining serta kembali lagi menempatkan makanan sekalian membungkuk serta kembali lagi nampak buah dadanya serta ingin rasa-rasanya kupegang. Ternyata Nining tahu jika saya sedang memerhatikan dadanya, lalu ia berbisik.

"Paakk…, matanya kok nakal…, yaa…", tetapi tanpa ada menutupnya serta langsung kujawab,

"aam…, habis bagus siih…, ingin pegang…,bisa apa tidak?", Nining cuma tersenyum sekalian mencubit tanganku lalu pergi. Film Bokep

Kemudian kami berempat makan di tikar serta sangat nikmat rasa-rasanya makan di kebun serta sesudah usai makan, Nining pamit untuk memberikan makan anaknya di dalam rumah bibinya. Saat kutanyakan ke Pak Tus, ke mana suaminya Nining selekasnya Pak Tus bercerita keluarganya., jika Istri Pak Tus ini ialah adik kandung dari Istri pertama kalinya yang telah wafat serta Nining ialah anak salah satu dari istri pertama kalinya. Sedang Nining telah berpisah dari suaminya di saat Nining hamil, suaminya tinggalkan demikian saja sebab kawin dengan wanita lain. Tidak berasa kami bercakap di kebun lumayan lama serta kemungkinan sebab hawanya cukup dingin serta anginnya cukup keras, saya berasa seperti sedang masuk angin.

Sesaat Pak Tus serta istrinya membereskan tersisa makan siang, saya memukul-mukul perutku untuk menunjukkan apa betul saya sedang masuk angin serta rupanya betul. Perbuatanku memukul perut ternyata diketahui oleh Pak Tus serta istrinya.

"Mengapa paak..", bertanya mereka hampir serempak.

"Tidak apa apa kok…, hanya masuk angin sedikit".

"Paak…, masuk angin kok…, disebut tidak apa apa..", jawab Pak Tus

"Apa bapak biasa dikerokin", sambungnya.

"Juga suka sich paak", jawabku. "Buu…, agar saya yang beresin ini semua…, itu tolong kerokin serta pijetin Pak Puur, agar masuk anginnya hilang", kata Pak Tus.

"Oh…, iya.., Buu", lanjut Pak Tus,

"Habis ini saya ingin mancing ikan di kali belakang, siapa tahu bisa ikan untuk makan malam nanti…".

"Pak Tuus…, kelak jika masuk angin saya hilang, saya ingin turut mancing ", kataku.

"Ayoo…, pak Puurr.., kita ke rumah…, agar saya kerokin disana…, jika di sini kelak justru dapat sakit beneran.

Sesampainya di rumah lalu bu Tus mengatakan,

"Paak…, silahkan bapak ke kamar sini saja", sekalian menunjuk salah satunya kamar, serta

"Saya ke belakang sesaat untuk ambil uang untuk kerokannya". Selang beberapa saat bu Tus ada ke kamar serta tutup pintunya serta menguncinya.

"Paak…, kerokannya dalam tempat tidur saja yaa…, serta tolong membuka kaosnya". Sesudah beberapa tempat di punggungku dikerokin, bu Tus memberi komentar. "Paakk…, ternyata bapak masuk angin beneran…, sampai merah semua tubuh bapak".

Sesudah sebagian besar punggungku dikerokin serta dipijitin, lalu bu Tus mintaku untuk tidur celentang.

"Paak…, saat ini tiduran celentang…, deh…, agar dapat saya pijitin supaya angin yang di dada serta perut dapat keluar . Kuturuti permohonannya serta bu Tus naik ke tempat tidur di samping kiriku serta mulai memijit ke-2 bahuku. Narasi Dewasa

Popular posts from this blog

Gairah Ibu Kost